![]() |
| Iskandar Cita |
WAJAND, MKS (10/10/14) – Aspirasi adalah hal yang sangat lumrah saat ini. Melalui aspirasi, banyak hal yang dapat diimplementasikan baik secara individu maupun kelompok. Hanya saja, masih banyak anak Bangsa Indonesia yang belum mengetahui cara penyampaian aspirasi. Lihat saja Makassar, daerah yang sudah terkenal dengan demo. Kegiatan demo yang mengharuskan seluruh Indonesia mendengarnya. Namun sayang Kota Daeng ini terkenal dengan demo yang berakhir anarkis. Lantas bagaimana cara mengatasinya ?
Di kesempatan kali ini
adalah hal yang berbeda dari salah satu anak muda Makassar. Berangkat dari profesi
aktivis kampus mengharuskan dia senang berorasi. Namun, hati nuraninya
tersontak kaget saat dia mengendarai angkot kemudian penumpang berkata “Edd ,
demo mi sede anak-anakka, na kira kapang disukaki itu”, sahut penumpang dengan
kesal. Dia tertunduk malu akan perkataan yang menyayat itu. Dari situlah, Pria
kelahiran Makassar , 24 Mei 1990 berniat mengubah cara penyampaian aspirasi.
Pria ini sering di sapa dengan nama Iskandar. Dia mencoba untuk menyalurkan
melalui baju desain yang dia rancangan sendiri dengan brand “Kampoeng Merdeka”
Sekelumit pertanyaan akan
bermunculan di kepala Anda. Kenapa harus menggunakan nama Kampoeng Merdeka. Hal
yang unik akan menjadi daya tarik bagi masyarakat kita. Terlebih lagi anak
jaman sekarang sudah semakin lari dan tidak melestarikan kampungnya. Saya ingin
anak muda sekarang tidak hanya bangga dengan kehidupan hedonism dan lebih
western, tetapi mereka harus bangga dengan local. Kata merdeka sendiri terlahir
karena ada keterkaitan dengan perjuangan Bangsa. Kita memang merdeka tanggal 17
Agustus 1945 tetapi apakah Bangsa ini benar merdeka , “sahut Iskandar dengan
semangat”.
Oleh karena itu, saya
ingin mengajak seluruh masyarakat terutama Mahasiswa di Makassar. Untuk bisa
menyampaikan aspirasi secara rasional. Seperti saat ini maraknya perundingan di
kancah pemerintahan. Rasanya memprihatinkan melihat kondisi ini. Salah satu
contoh baju yang saya kenalkan adalah “Kalau Hanya Janji Saya Juga Bisa”.
Kampoeng Merdeka yang
sudah berdiri sejak dua tahun lalu bertepatan dengan Ulang Tahun Negara
Indonesia. Tidak bekerja sendiri, Iskandar juga dibantu dengan teman-teman
sekitarnya untuk menyalurkan aspirasi. Sebagian dari mereka ada yang pro dan
ada juga yang kontra. Tetapi semua masukan-masukan kami tampung dalam jendela
aspirasi. Peningkatan hasil pendapatan Kampoeng Merdeka melalui kaos tidak
menyulutkan untuk tetap berkarya. Saat ini Kampoeng Merdeka yang terletak di
daerah Tamalate juga menyalurkan melalui sandal, gelas dan lain-lain. Contoh
dari sandal adalah “Ini adalah sandal para koruptor”. Tampak dengan kata-kata
yang diolah secara menarik da menyayat hati membuat banyak masyarakat
memberikan pandangan positif.
Iskandar juga berharap
dengan adanya inovasi yang Kampoeng Merdeka ciptakan bisa menjadi ciri khas di
Makassar. Bahwa tidak selamanya penyampaian aspirasi harus dengan anarkis.
Mahasiswa sekarang saya pikir cerdik dan cerdas, sebaiknya mereka memanfaatkan
kegiatan positif namun penyampaian tujuan bisa tercapai.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar