Pandangan Pertama

Tangan kanan membuka pintu dengan perlahan. Perlahan karena pintu terlalu susah untuk digerakkan. Sepatu sneaker, celana jeans dan baju merah dibalur jilbab merah menyala. Mukaku yang kusam tak peduli dengan sekitarku. Terduduk dan tertunduk , rasa perutku sungguh terkoyak. Begitulah saya kala maag ku menyerang.

Menghela nafas, ada yang menghalangi tatapan ku seketika. Ada banyak orang di ruangan itu. Namun mata ku tertuju padanya, Pada Dirinya Seorang. Pria berkemeja strip berwarna orange dengan rambut cukup berombak, berbalut celana kain dan sepatu fentovel. Rasa kaku terpaku di wajah ini.

Siapa dia ?
Siapa namanya ?

Terdengar dari di depan "Ini adalah calon pegawai tahun ini, saat ini sedang tes kesehatan". Buyar seketika lamunan itu, namun hanya beberapa detik saja. Kembali saya menatapnya, di kepalaku hanya tergingang

haruskah saya ke sana ?
haruskah saya menanyakan namanya?
oh tidak itu terlalu agresif
tapi siapa nama lelaki itu

Pundak ku terasa terhentak. Betul saja, si mama membuyarkan lamunan ke dua ku ini.

Awas jangan macam-macam, jangan melakukan hal aneh

Sudah ku duga sesuatu hal yang nihil mengetahui namanya. Ah sudahlah bibirku berucap tapi mengapa hatiku terus ingin mengikutinya.

"Wahyuni Juanda, silahkan masuk"

Belum juga menikmati lamunan ketiga, lagi-lagi gangguan datang lagi. Dalam ruangan itu, hanya mama saja yang menjelaskan sakit yang kurasa. Sementara di kepala saya, berharap akan bertemu dengan Pria berbaju orange.

Malangnya, dia sudah tidak di luar lagi. Kembali lemas sekujur tubuh. Saya menuju parkiran di bawah pohon. Dengan tatapan kosong dan kecewa.

Seandainya saya beranikan diri untuk bertanya tentangnya

Waaah, ucapku. Terima kasih Tuhan, engkau menghadirkannya. Dia melewati pintu mobilku. Secepat mungkin aku membuka mobil. Saya ingin iseng menjatuhkan handphone saat dia lewat kemudian dia menolongku dan saya mendengarkan namanya. Lagi-lagi itu hanya bualan semata.

Bagaimana ini, apa yang harus ku lakukan. Ternyata saya tidak bisa melakukan apapun. Sepanjang jalan saya terus memikirkannya. Memikirkan bagaimana cara agar saya bisa kembali bertemu dengan dia.

Tuhan, saya terpanah pada pandangan pertamaku terhadapnya
Adakah kesempatan kali ketiga untuk bertemu lagi
Walau hanya sekedar mengetahui namanya.
Saya percaya Tuhan pengatur segalanya.

Tidak ada komentar: