MEMBANGUN DAN MENANAMKAN JATI DIRI WIRAUSAHA SEJAK DINI



Istilah entrepreneur saat ini bukan hal yang baru di telinga masyarakat. Kata entrepreneur yang dapat diartikan dalam bahasa Indonesia adalah wirausaha. Menyadari bahwa semakin hari istilah tersebut sudah merambah tidak hanya di Indonesia tetapi juga mancanegara semakin memacu untuk bersaing dengan jutaan karya. Bahkan kegiatan ini sudah berjalan sejak kita lahir namun lebih akran dengan sebutan pedagang. Dimana pedagang yaitu peran utama dalam proses transaksi jual beli antar pelanggan. Dulu Bangsa Indonesia jauh tertinggal dengan Amerika salah satunya di bidang pengelolaan kewirausahaan. Seiring berjalan waktu Indonesia mulai mengayomi kader atau generasi yang mengembangkan berbagai usaha. Hal ini sangat menunjang peningkatan perekonomian. Inilah yang menyebabkan warga negara harus menanamkan di dalam jati diri untuk membangun usaha.
Dibalik pemikiran masyarakat yang berkembang melalui dunia kewirausahaan. Banyak juga masyarakat yang memilih untuk tetap menjadi pegawai negeri sipil (PNS), karyawan. Keduanya tidak ada parameter buruk karena sesungguhnya kedua posisi tersebut akan saling melengkapi. Dimana pola yang akan terbentuk adalah hadirnya produsen dan konsumen. Jadi, bukan sebuah kesalahan ketika generasi memilih untuk melanjutkan masa depan dengan berkarir di kantor ternama atau membangun usaha yang memiliki brand ternama pula. Namun alangkah begitu bahagia dan nyaman, ketika di masa akhir jabatan mereka walaupun status mereka adalah pensiunan tetapi aliran dana tetap berjalan karena adanya wirausaha. Oleh karena itu, pekerja kantor disarankan menginvestasikan sebagian upah mereka untuk membangun usaha baik kecil maupun besar. Sebuah pertanyaan akan muncul dibenak Anda yaitu Bagaimana saya mengelola wirausaha sedangkan saya tidak memiliki kemampuan untuk berwirausaha?.
Keresahan seperti ini sudah banyak yang mengalaminya. Ketika mereka dihadapkan untuk menjalankan usaha. Tertanam dalam benak mereka bahwa menjadi karyawan jauh lebih aman dibandingkan menjadi pengusaha. Karyawan setiap bulan akan mendapatkan upah tanpa ada pemotongan sedangkan pengusaha tentu saja akan mengalami rugi. Inilah yang menjadi kekhawatiran dan ketakutan terbesar mereka. Terbentuk pemikiran bahwa hidup berjalan lurus tanpa ada tikungan tajam akan lebih bermanfaat. Namun, seandainya mereka menyadari bahwa menjadi karyawan itu sangatlah monoton bila tidak disandingkan dengan adanya usaha. Katakan salah satu contoh jurusan yaitu Ekonomi, mereka hanya memainkan perhitungan laba dan rugi namun apakah mereka sudah merasakan dinamika pemasukan dan pengeluaran yang mereka kelola sendiri. Kehidupan akan terasa indah bila ada dinamika yang menciptakan warna di setiap proses yang terjadi. Lalu bagaimana untuk memulai?
Sadar dunia teknologi semakin meningkat, sarana dan prasarana yang dihadirkan sejak dini sudah jauh lebih canggih dibandingkan masa penjajahan. Dua kata yang harus digarisbawahi yaitu “sejak dini”. Benar, memberikan pemahaman sejak dini adalah upaya yang sangat membantu generasi untuk menentukan kehidupannya kelak dengan hadirnya dinamika kehidupan sesungguhnya. Membangun mental yang kuat, menajamkan pemikiran dan melakukan pergerakan sejak dini dapat menciptakan generasi yang memiliki nilai. Ilmu tidak hanya berasal dari tata buku cetak sekolah, universitas saja karena pengalamanlah yang mematangkan mereka. Sekolah Dasar adalah salah satu wadah yang dapat menghadirkan kurikulum wirausaha. Memberikan definisi positif kepada mereka lalu meninjau passion yang telah terbentuk dari anak tersebut kemudian mengajarkan cara pemasaran kecil kepada masyarakat tanpa menggangu proses pembelajaran di sekolah. Ketika proses ini terjadi, lalu mereka mendapatkan hasil dari kerja yang telah dilakukan tanpa mengemis terciptalah kata “Selalu ada hasil terbaik ketika kita berusaha dan memiliki tekad kuat tanpa putus asa”. Mari menjadi karakter yang memiliki jati diri untuk melangkah lebih maju dan lebih baik melalui karya-karya terbaik.

Tidak ada komentar: